Jumat, 25 April 2014

Tiga Ekor Ayam Dalam Kandang

Kita hidup di sebuah zaman yang mengagungkan kebebasan. Kemerdekaan. Dalam berpikir, bertindak, berpakaian, makan, minum, berbicara, berkarya, dan sebagainya. Kita mampu memberontak dan meninggalkan mereka yang kita anggap memasung kebebasan kita. Oh, sungguh beruntungnya kita!

Di pagi hari saat sedang bermeditasi jalan, saya melihat sebuah kandang yang berisikan tiga ekor ayam. Berhenti sedikit lama di sana, saya diam memandangi mereka sambil merenung. Alas pijak mereka berbolong-bolong supaya kotoran bisa langsung jatuh ke tanah, tapi ini juga berarti mereka harus berjalan dengan lebih berhati-hati. Kandang itu sama sekali tidak luas, atapnya pun tidak tinggi. Mereka, tiga ekor, hanya mampu bergerak sedikit ke kiri, sedikit ke kanan, sedikit ke depan, sedikit ke belakang, sedikit celingak celinguk lewat bolong-bolong penghantar udara pada sisi kandang.

Mereka bergerak sambil berceloteh, "kurrr... kurrrr... kurrr...".

Semakin melihat, semakin bercermin. Betapa bahagianya kita yang berada di luar kandang. Bebas pergi ke manapun kita mau, bebas melakukan apapun yang kita suka. Betapa beruntungnya, betapa mahalnya nilai sebuah kebebasan!

Semakin melihat, semakin bercermin. Betapa tidak adilnya hidup di dalam sebuah kandang. Tidak bebas melihat, tidak bebas bergerak, hidup berada di tangan orang lain; syukur-syukur kalau tidak dijadikan makanan.

Semakin melihat, semakin bercermin. Betapa kita jarang mensyukuri kebebasan hidup kita. Seakan ini memang 'sudah dari sananya'. Seakan kita bebas membungkam siapapun yang mau "turut campur" dalam hidup kita.

Sebelum menitikkan air mata dan mengucapkan selamat tinggal sementara kepada tiga ekor ayam dalam kandang, saya mendengar entah paruh entah kaki mereka mengetuk ke pintu, "tok tok tok." Lalu berulang lagi, "tok tok tok."

Sebelum menitikkan air mata dan mengucapkan selamat tinggal sementara kepada tiga ekor ayam dalam kandang, saya lalu berdoa. Supaya mereka baik-baik saja dan terjaga. Cahaya putih sebagai lentera. Kemudian, tiba-tiba gerak mereka, tiga ekor, serentak berhenti. Cukup lama. Seakan mau meresap makna.

Sebelum menitikkan air mata dan mengucapkan selamat tinggal sementara kepada tiga ekor ayam dalam kandang, saya lalu berjanji bahwa tiga ekor ayam dalam kandang tidak akan sia-sia hidup di dalam kandang. Saya akan menceritakan kisah mereka kepada siapa saja yang mau membaca dan mendengarkan.

Terima kasih. Selamat bersinar, salam damai.

Amelia Devina