Minggu, 07 September 2014

Terpaksa berjilbab siap kena azab

MERDEKA.COM. Dia sudah menggeluti dunia syahwat setahun terakhir. Mulanya terpaksa berjilbab karena persyaratan kerja, namun hingga kini FK biasa menawarkan tubuhnya dalam balutan kerudung suci.

Lima tahun lalu, selepas menamatkan bangku kuliah, dia diterima sebagai karyawan di sebuah bank syariah di daerah Jakarta Selatan. Sebab itu, dia mesti berjilbab saban hari.

"Di divisi akun tabungan, mau nggak mau harus pakai (jilbab) tapi sudah nyaman," kata FK saat ditemui merdeka.com Kamis pekan lalu di kamar apartemennya di Jakarta. "Sekarang malah jadi andalan aku kalo di beginian (pelacuran)."

Perempuan berkulit coklat ini memang tidak terlalu cantik. Tubuhnya juga tak menggoda dengan ukuran bra 32 tergolong kecil. Meski begitu, kesehariannya memakai jilbab menjadi kelebihan buat menjerat lelaki nakal.

"Aku sih biasa saja. Sekarang orang pakai jilbab cuma kedok saja, belum tentu suci," ujar FK kalem. "Yah, sekarang begini saja, pakai jilbab terus masih suka terima tamu."

FK merasa pekerjaannya sebagai pelacur berjilbab tidak merugikan orang lain. Tapi dalam hati kecilnya, ada sebuah ketakutan mendalam akan dimintai pertanggungjawaban setelah menemui ajal.

Apalagi dia selama ini juga sangat jarang salat. Keyakinan untuk menjadi lebih baik masih menjadi angan-angannya kelak. "Kalau lagi sendiri suka kepikiran aja. Dosa mah sudah sedada mungkin," tuturnya.

Dia pun berseloroh, "Kena kutuknya kayak bagaimana yah?"