Senin, 08 September 2014

'Polisi Syariat' Berpatroli di Jerman

TEMPO.CO, Wuppertal - Sejumlah pria muda berkeliling Kota Wuppertal, wilayah barat Jerman, seperti sedang berpatroli awal pekan ini. Mereka mengenakan rompi warna oranye. Pada bagian punggungnya terdapat tulisan "SHARIAH POLICE". 

Di sepanjang jalan mereka mendesak warga untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang dianggap tidak sejalan dengan hukum syariat.

Menurut Russia Today, Sabtu, 6 September 2014, anak-anak muda itu diketahui merupakan pengikut Salafi, aliran pemurnian Islam. Gerakan Salafi berkembang cepat saat ini. Para pengikutnya berpatroli di tempat-tempat hiburan malam di kota Wuppertal.

Mereka mendesak orang-orang untuk tidak meminum alkohol, memakai narkoba, berjudi, menonton film-film porno, dan melakukan aktivitas yang dianggap melanggar syariat. Selain berpatroli, mereka juga membagi-bagikan brosur tentang tuntunan syariat.

Polisi menghentikan patroli sebelas pria berusia 19-33 tahun itu. Mereka kemudian melakukan investigasi tentang kemungkinan jenis pelanggaran hukum yang dilakukan para pemudia itu.

Kehadiran "polisi syariat" itu membuat gerah pemerintah Jerman yang selama ini menegaskan bahwa cara-cara kelompok pendukung syariat itu merupakan provokasi dan tidak akan ditenggang oleh hukum apa pun yang berlaku di negara itu.

"Jerman tidak akan menenggang hukum syariat. Tak seorang pun berhak menodai citra baik polisi Jerman," ujar Menteri Dalam Negeri Jerman Thomas de Maiziere dalam suatu wawancara dengan Bild.

Menteri Kehakiman Jerman Heiko Maas pun menegaskan hal serupa. Dia menyatakan Jerman hanya mengenal hukum yang berlaku dan diakui selama ini.

"Intimidasi atau provokasi tidak akan diterima," Kata Kepala Keppolisian Wuppertal, Birgitta Rademacher, seperti dikutip Deutsche Welle.
Ia menegaskan, hanya polisi yang ditunjuk dan dipekerjakan oleh negara yang berwenang melakukan tindakan kepolisian di Jerman.

Wali Kota Wuppertal, Peter Jung, mendukung polisi menindak kelompok garis keras ini. "Orang-orang ini berniat memprovokasi dan mengintimidasi dan memaksakan ideologi mereka terhadap yang lain," ucapnya.

Munculnya "polisi syariat" di Wuppertal juga mendapat reaksi dari warga setempat. Satu jalur telepon khusus telah disediakan bagi warga untuk melaporkan informasi terkait dengan kelompok yang melakukan patroli tersebut.

Hadirnya kelompok Salafi ini membuat Jerman khawatir anak-anak muda itu telah direkrut oleh milisi Negara Islam (sebelumnya dikenal sebagai Negara Islam Irak dan Suriah/ISIS) atau kelompok militan lainnya untuk berangkat ke Suriah dan Irak.

Data yang diperoleh pejabat Kota North Rhein-Westphalia menyatakan ada sekitar 1.800 pengikut Salafi di kawasan itu. Dari jumlah tersebut, sekitar 10 persen adalah anggota kelompok ekstremis yang melakukan kekerasan.


RUSSIA TODAY | MARIA RITA HASUGIAN