Rabu, 13 Agustus 2014

Wildan Sempat Mengeluh, Lama Bertempur Tapi Tak Kunjung Mati

TRIBUNNEWS.COM, LAMONGAN - Kematian Wildan Mukhollad di Irak sempat mengguncang keluarganya di Payaman, Solokuro, Lamongan.
Namun, mereka perlahan bisa mengikhlaskan.
Mereka sadar  tak bisa mengubah takdir hidup remaja pandai yang memang memimpikan mati di medan tempur.

Muhammad In’am meraih rokok kretek. Sejurus kemudian, sebatang rokok sudah terapit di bibirnya.
”Maaf saya merokok,” katanya sembari mempersilakan Surya (Tribunnews.com Network)ikut menikmati gulungan tembakau itu.
Gaya hidup pemuda 36 tahun itu jauh berbeda dengan almarhum adiknya, Wildan Mukhollad.
Gaya In’am berpakaian sangat kasual. Jauh dari atribut Timur Tengah yang biasa dikenakan sang adik, meski keduanya sama-sama jebolan pondok pesantren. In’am memilih jalur hidup sebagai pebisnis.
In’am lalu memulai kisah perjalanan hidup adiknya. Ia pun berharap Wildan tewas dalam keadaan syahid, seperti yang diimpikannya ketika memasuki Irak bersama ISIS.
”Dia memiliki keyakinan yang kuat untuk membantu umat muslim di sana melawan rezim yang kejam. Insya Allah (kematiannya) baik,” harapnya.
Keyakinan Wildan untuk berperang di barisan ISIS memang berulang kali diucapkannya kepada keluarga. Tentu saja melalui pembicaraan telepon.
Pernah suatu ketika, Wildan menelepon ibunya. Di ujung telepon, Wildan berkeluh kesah lantaran tak kunjung dipilih Tuhan untuk mati syahid.
Padahal, banyak teman seangkatannya yang ‘terpilih’, mati dalam pertempuran.
”Bu aku kok gak mati-mati ya? Konco-konco wis akeh sing syahid,” ujar In’am menirukan ucapan adiknya.
Mendengar keinginan itu, sang ibu menghela nafas panjang. Sang ibu kemudian menasihati Wildan. Namun, nasihat itu hanya didengar tanpa pernah diturutinya.
Wildan berkeras mati secara syahid sesuai dengan yang diyakininya.
Tekad untuk perang hingga mati itu juga ditunjukkan lewat sebuah foto yang dikirim pada keluarga.
Foto itu memperlihatkan satu tangan Wildan memegang senapan serbu AK-47 miliknya.
Senjata bikinan Uni Soviet itulah yang menemani Wildan selama bertempur di wilayah konflik seperti Allepo, kota terbesar kedua di Suriah. Lalu satu tangan lainnya menunjukkan secarik kertas.
Di atas kertas putih itu tertera tulisan berbahasa Arab. Kalimatnya bisa dibaca dengan jelas, yang artinya ’Aku tunggu kalian berdiri di sini’.
Wildan tidak menujukkan wajahnya. Foto diambil pada posisi senjata dan kertas berisi pesannya saja. ”Itu seperti ajakan untuk berjihad,” ungkap In’am. (idl/ben)