Senin, 05 Mei 2014

Hina Alquran, empat biksu Buddha Sri Lanka diseret ke pengadilan

ilustrasi biksu Buddha. ©Fox News
Merdeka.com - Empat biksu Buddha garis keras dan paling senior di Sri Lanka muncul di pengadilan pada hari ini atas tuduhan menghina Alquran, dalam kasus pertama yang muncul mengikuti serentetan serangan kebencian agama.

Polisi menuduh para biksu dari kelompok nasionalis Bodu Bala Sena (BBS), atau Pasukan Buddha, membuat pernyataan meremehkan kitab suci agama Islam, setelah tiba-tiba masuk ke dalam sebuah pertemuan para pemimpin agama pada bulan lalu, seperti dilansir situs Asia One, Senin (5/5).
Pada pertemuan tersebut, para biksu juga mengintimidasi seorang rekan mereka yang moderat yang mempromosikan toleransi beragama di negara mayoritas berpenduduk agama Buddha itu.
"Keempat biksu bersama dua orang awam dipanggil oleh pengadilan pada hari ini dan diberikan jaminan dalam jumlah masing-masing Rp 8,8 juta," kata Juru bicara kepolisian Sri Lanka, Ajith Rohana kepada AFP. "Hakim memperingatkan mereka untuk tidak senang terlebih dahulu. Karena kami akan mengajukan tuntutan formal ketika kasus diajukan lagi bulan depan."
Pemimpin BBS, Galagodaatte Gnanasara, mengatakan dia dan tiga biksu lainnya tidak bersalah atas pelanggaran apapun.
"Kami ingin mengaku tidak bersalah, tapi kami tidak punya kesempatan untuk berbicara di pengadilan. Kami diberitahu sidang akan digelar pada 9 Juni mendatang," ujar Gnanasara.
Pihak berwenang sedang berusaha untuk menindak kejahatan rasial mengikuti insiden serangan dilakukan massa yang dipimpin para biksu pada tahun lalu dan awal tahun ini terhadap toko-toko milik warga muslim, sebuah masjid dan pusat doa bagi warga Kristen.
Para pemimpin muslim mengeluh kepada pemerintah bahwa BBS melakukan kampanye kebencian, namun dibantah kelompok itu.
Pekan lalu, anggota parlemen muslim, termasuk para menteri dalam pemerintahan, meminta Presiden Mahinda Rajapakse untuk melindungi masyarakat dari unsur-unsur ekstremis Buddha yang dituduh melakukan serangan itu.
Polisi mendirikan sebuah unit baru pada pekan lalu untuk menyelidiki kejahatan rasial mengikuti insiden kekerasan, yang menimbulkan kekhawatiran tentang kebebasan beragama.
Kelompok-kelompok Buddha nasionalis, termasuk BBS, menuduh agama minoritas memiliki pengaruh politik dan ekonomi yang tidak semestinya di negara itu.
Sebanyak 70 persen dari 20 juta penduduk Sri Lanka adalah umat Buddha Sinhala. Sementara muslim menjadi kelompok agama terbesar kedua di negara itu, dengan hanya di bawah 10 persen dari keseluruhan penduduk. Sedangkan lain adalah warga Hindu dan Kristen.